Semarang, 9 September 2026 – Suasana duka menyelimuti kediaman keluarga Mozza Axillia Gunarsa di Dusun Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, setelah kerangka jenazah remaja tersebut akhirnya dipulangkan kepada keluarga. Ambulans yang membawa peti jenazah tiba di sekitar rumah duka pada Jumat (4/9/2026) malam sekitar pukul 22.26 WIB. Keluarga, kerabat, tetangga, hingga para pelayat yang telah menunggu langsung menyambut kedatangan jenazah dengan isak tangis. Peti yang berisi kerangka Mozza kemudian diturunkan dari ambulans dan dibawa masuk ke dalam rumah untuk menjalani prosesi terakhir sebelum pemakaman. Kepulangan jenazah sekaligus menjadi akhir dari penantian panjang keluarga yang selama lebih dari satu tahun mencari kepastian mengenai keberadaan Mozza.
Tangis semakin terdengar ketika peti jenazah dibawa melewati keluarga dan warga yang memenuhi sekitar rumah duka. Sejumlah anggota keluarga terlihat ikut mendampingi perjalanan jenazah hingga tiba di kediaman, sementara warga memberikan ruang agar peti dapat segera dibawa masuk. Setelah jenazah berada di dalam rumah, lantunan doa terus terdengar dari para pelayat yang datang memberikan penghormatan terakhir. Para pelayat laki-laki kemudian mengambil wudu dan melaksanakan salat jenazah sebelum proses pemakaman dilakukan. Dua batu nisan juga telah dipersiapkan keluarga sebagai bagian dari prosesi pemakaman Mozza di pemakaman setempat.
Ketua RT 04 RW 01 Desa Gebugan, Suryanto, mengatakan warga sebelumnya telah mendapatkan informasi mengenai penemuan kerangka manusia pada Jumat sore. Namun, informasi tersebut belum langsung disampaikan secara luas karena identitas kerangka saat itu masih membutuhkan kepastian. Keluarga kemudian mendatangi pihak berwenang untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai hasil pemeriksaan dan identifikasi. Setelah kepastian diperoleh bahwa kerangka tersebut merupakan Mozza, warga mulai mempersiapkan rumah duka dengan memasang tenda dan menyediakan kursi untuk para pelayat. Kabar tersebut dengan cepat menyebar di lingkungan tempat tinggal korban dan membuat masyarakat berdatangan untuk mendampingi keluarga.
Mozza sebelumnya dilaporkan hilang sejak 28 Juni 2025 setelah tidak kembali ke rumah dan tidak dapat dihubungi keluarganya. Berdasarkan penyelidikan polisi, korban diketahui bertemu seorang pria berinisial MDVA di sebuah kamar kos di kawasan Jalan Sriwijaya, Kota Semarang, pada 25 Juni 2025. Polisi menduga korban meninggal setelah mengalami kekerasan di lokasi tersebut menyusul perselisihan dengan terduga pelaku. Jenazah kemudian diduga dimasukkan ke dalam karung dan dibawa menuju kawasan sekitar Jalan Tol Jangli sebelum dibuang ke jurang. Lebih dari satu tahun kemudian, kasus yang sebelumnya berawal sebagai laporan orang hilang itu akhirnya berkembang menjadi penyelidikan dugaan pembunuhan.
Titik terang dalam kasus tersebut muncul setelah polisi menangkap MDVA di Kabupaten Blora pada 3 September 2026. Keterangan yang diperoleh dalam penyelidikan kemudian membawa petugas menuju lokasi tempat jenazah Mozza diduga dibuang. Pada Jumat (4/9), petugas mengevakuasi kerangka manusia dari kawasan jurang di sekitar Jalan Tol Jangli, Tembalang, Kota Semarang. Sejumlah ciri yang ditemukan di lokasi disebut mempunyai kesesuaian dengan identitas Mozza, termasuk karakteristik fisik dan barang yang ditemukan bersama kerangka. Orang tua korban kemudian dilibatkan dalam proses identifikasi hingga keluarga akhirnya memperoleh kepastian mengenai nasib Mozza setelah penantian panjang.
Kepastian tersebut membawa perasaan bercampur bagi keluarga karena pencarian yang berlangsung lama akhirnya mendapatkan jawaban, tetapi dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Kakek Mozza, Ngadirin, mengenang cucunya sebagai sosok yang baik dan pintar serta mengungkap dirinya sempat merasakan kegelisahan sebelum menerima kabar mengenai penemuan kerangka. Ia terus memikirkan keberadaan cucunya yang tak kunjung pulang setelah lebih dari setahun dinyatakan hilang. Keluarga selama ini tetap menyimpan harapan dapat kembali bertemu dengan Mozza dalam keadaan apa pun. Ketika kepastian mengenai identitas kerangka akhirnya disampaikan, harapan tersebut berubah menjadi duka sekaligus kesempatan bagi keluarga untuk mengantarkan Mozza ke tempat peristirahatan terakhir.
Di lingkungan tempat tinggalnya, Mozza dikenang sebagai pribadi yang pendiam, baik, dan cukup aktif mengikuti berbagai kegiatan masyarakat. Suryanto mengatakan korban juga aktif dalam kegiatan di musala setempat sehingga cukup dikenal oleh warga sekitar. Mozza disebut memiliki perjalanan pendidikan yang menjanjikan dan telah diterima di Universitas Diponegoro sebelum dirinya dilaporkan menghilang. Kenangan tersebut membuat kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam, bukan hanya bagi keluarga tetapi juga tetangga dan orang-orang yang mengenalnya. Banyaknya warga yang datang ke rumah duka menjadi bentuk dukungan terhadap keluarga setelah melalui masa pencarian panjang yang penuh ketidakpastian.
Setelah salat jenazah selesai dilakukan, peti Mozza kembali diangkat untuk dibawa menuju tempat pemakaman. Keluarga memutuskan pemakaman dilaksanakan pada malam yang sama di Makam Sepringgitan, Dusun Gebugan, Desa Gebugan, Kecamatan Bergas. Prosesi tersebut berlangsung dengan diiringi keluarga, kerabat, serta warga yang ingin memberikan penghormatan terakhir. Pemakaman menjadi momen emosional karena keluarga akhirnya dapat mengantarkan Mozza setelah lebih dari setahun tidak mengetahui secara pasti keberadaannya. Di sisi lain, proses hukum terhadap terduga pelaku terus berjalan untuk mengungkap secara lengkap rangkaian peristiwa yang menyebabkan kematian korban.
Kepulangan kerangka jenazah Mozza menutup satu bagian dari pencarian panjang keluarga, tetapi penanganan perkara pidana masih berlanjut. Polisi masih mendalami berbagai bukti dan keterangan untuk menyusun secara lengkap kronologi sejak korban meninggalkan rumah, bertemu dengan terduga pelaku, hingga akhirnya ditemukan di kawasan jurang Tol Jangli. Bagi keluarga, kepastian mengenai keberadaan Mozza setidaknya memungkinkan mereka memberikan penghormatan dan pemakaman yang layak setelah lama menunggu kabar. Dukungan masyarakat yang memenuhi rumah duka juga memperlihatkan besarnya perhatian terhadap keluarga dalam menghadapi kehilangan tersebut. Kini, proses hukum diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai seluruh fakta dalam perkara sekaligus memastikan pertanggungjawaban sesuai hasil penyidikan dan ketentuan hukum yang berlaku.





