Jakarta, 7 September 2026 – Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menyerang tiga kapal tanker minyak yang melintasi jalur yang disebut Teheran sebagai rute tidak berizin di Selat Hormuz, serta tiga kapal lain yang dikaitkan dengan Amerika Serikat. Klaim tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat di perairan strategis Teluk Persia dan Teluk Oman. IRGC menyatakan serangan dilakukan sebagai balasan setelah pasukan Amerika Serikat sebelumnya menghantam tiga kapal tanker minyak Iran. Hingga perkembangan terakhir, belum terdapat konfirmasi independen mengenai tingkat kerusakan maupun korban dalam serangan yang diklaim Iran terhadap kapal-kapal tersebut. Militer Amerika Serikat juga tidak segera mengonfirmasi klaim IRGC mengenai keberhasilan serangan terhadap tiga kapal yang disebut terkait dengan Washington. Situasi tersebut membuat perkembangan keamanan di Selat Hormuz kembali menjadi perhatian internasional karena jalur itu memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia.
Dalam pernyataannya, Angkatan Laut IRGC menyebut tiga kapal tanker menjadi sasaran karena bergerak melalui jalur yang dianggap tidak mendapatkan izin Iran. Teheran tidak segera mengungkap secara rinci identitas seluruh kapal tanker yang diklaim telah terkena serangan maupun negara tempat kapal-kapal tersebut terdaftar. IRGC juga menyatakan tiga kapal yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat menjadi sasaran di wilayah lain, tetapi informasi mengenai posisi dan kondisi kapal tersebut masih terbatas. Pernyataan Iran tersebut belum dapat diverifikasi secara independen sehingga klaim mengenai keberhasilan serangan masih harus diperlakukan sebagai keterangan dari salah satu pihak yang terlibat konflik. IRGC kemudian mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal yang beroperasi di kawasan Teluk Persia dan sekitar Selat Hormuz agar tidak melakukan pergerakan yang dianggap mencurigakan. Peringatan tersebut semakin memperbesar kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran komersial di kawasan.
Rangkaian ketegangan terbaru bermula ketika Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah dua kapal perang Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan tersebut. Militer AS menyatakan sebuah kapal induk dan kapal perusak berpeluru kendali berhasil menghindari serangan yang diluncurkan pasukan Iran. Washington menegaskan tidak ada personel Amerika yang terluka dalam serangan tersebut. Setelah insiden itu, Komando Pusat Amerika Serikat melakukan serangan terhadap tiga kapal tanker minyak Iran yang berada di lokasi berbeda. Salah satu tanker berada di sekitar Pulau Kharg, pusat penting ekspor minyak Iran, sementara kapal lainnya berada di sekitar Jask dan Teluk Oman. Washington menyebut operasi tersebut sebagai respons terhadap serangan Iran terhadap kapal perangnya.
Tiga kapal tanker Iran yang menjadi sasaran Amerika Serikat dilaporkan mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda. Salah satunya adalah M/T Downy yang berada di lepas pantai Pulau Kharg dan disebut dibuat tidak dapat beroperasi setelah terkena serangan. Kapal M/T Stark 1 yang berada di sekitar Jask juga menjadi sasaran dan dilaporkan mengalami kerusakan berat. Sementara itu, M/T Kylo yang berada di Teluk Oman terkena serangan di sejumlah bagian penting dan kemudian dilaporkan tenggelam. Awak kapal disebut telah diperintahkan meninggalkan kapal sebelum serangan dilakukan sehingga risiko korban dapat ditekan. Militer AS menyatakan tanker-tanker tersebut merupakan bagian dari jaringan yang menurut Washington digunakan Iran untuk memperoleh pendapatan dari perdagangan minyak.
Iran mengecam tindakan Amerika Serikat terhadap kapal tanker komersialnya dan menyebut serangan tersebut sebagai tindakan ilegal serta tidak bertanggung jawab. Pemerintah Iran menilai operasi Washington merupakan pelanggaran terhadap hak kedaulatan dan kepentingan nasional negara tersebut. Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan bahwa berlanjutnya serangan terhadap kapal maupun kepentingan Iran dapat memicu respons yang lebih luas. Teheran juga menegaskan akan mempertahankan haknya untuk menjaga keamanan wilayah dan kepentingan nasional di kawasan. Pernyataan tersebut kemudian diikuti aksi balasan yang diklaim dilakukan Angkatan Laut IRGC terhadap kapal tanker dan kapal yang disebut terkait Amerika Serikat. Pertukaran serangan tersebut menunjukkan konfrontasi kini semakin berpusat pada jalur maritim yang mempunyai nilai ekonomi dan strategis sangat besar.
Ketegangan kembali meningkat pada 6 September ketika Iran mengklaim menyerang sebuah kapal tanpa awak milik Amerika Serikat yang mencoba memasuki Selat Hormuz. Teheran menyatakan kapal tersebut menjadi sasaran setelah dianggap memasuki kawasan strategis tanpa mengikuti ketentuan yang diberlakukan Iran. Namun, militer Amerika Serikat membantah keras klaim tersebut dan menyatakan tidak ada kapal mereka yang terkena serangan sebagaimana disebut pihak Iran. Perbedaan keterangan dari kedua pihak membuat situasi di lapangan semakin sulit diverifikasi secara independen. Washington dan Teheran dalam beberapa hari terakhir saling mengeluarkan klaim mengenai operasi militer masing-masing di sekitar kawasan Teluk. Ketidakpastian informasi tersebut turut meningkatkan risiko salah perhitungan apabila pergerakan kapal atau pesawat salah ditafsirkan sebagai tindakan bermusuhan.
Selat Hormuz mempunyai arti strategis karena menjadi jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Jalur sempit tersebut digunakan untuk mengangkut minyak dan gas dari sejumlah produsen utama di Timur Tengah menuju pasar internasional. Sebelum konflik terbaru menekan aktivitas pelayaran, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia melewati kawasan tersebut. Pemerintah Amerika Serikat memperkirakan volume minyak yang saat ini melintasi Selat Hormuz rata-rata sekitar sembilan juta barel per hari. Gangguan terhadap jalur tersebut karena itu dapat memberikan dampak terhadap pasokan dan harga energi global. Perusahaan pelayaran juga harus mempertimbangkan peningkatan risiko keamanan, biaya asuransi, serta kemungkinan perubahan rute ketika ketegangan militer meningkat.
Iran selama ini memandang Selat Hormuz sebagai wilayah yang sangat penting bagi kepentingan keamanan dan ekonominya. Sebagian besar ekspor minyak Iran bergantung pada fasilitas di sekitar Teluk Persia, terutama Pulau Kharg yang menjadi pusat utama pengiriman minyak mentah negara tersebut. Serangan terhadap kapal tanker di sekitar kawasan itu dapat memberikan tekanan tambahan terhadap kemampuan Iran mempertahankan ekspor energi. Washington menuduh pendapatan dari jaringan ekspor tersebut digunakan untuk mendukung IRGC dan kelompok-kelompok sekutu Iran di kawasan. Teheran menolak tekanan terhadap perdagangan minyaknya dan menilai pembatasan yang dilakukan Amerika Serikat sebagai bentuk tindakan bermusuhan. Perselisihan mengenai pelayaran dan ekspor minyak kemudian berkembang menjadi salah satu titik utama konfrontasi kedua negara.
Perkembangan terbaru juga meningkatkan perhatian terhadap kapal-kapal komersial yang tidak terlibat langsung dalam konflik. Peringatan IRGC bahwa kapal yang menggunakan jalur yang dianggap tidak berizin dapat menjadi sasaran menciptakan ketidakpastian bagi operator pelayaran internasional. Identitas dan status tiga tanker yang diklaim diserang Iran belum sepenuhnya terungkap sehingga belum diketahui secara jelas keterkaitan kapal tersebut dengan negara tertentu. Otoritas keamanan maritim internasional terus mengikuti perkembangan untuk mengetahui apakah terdapat insiden tambahan yang dapat membahayakan pelayaran sipil. Operator kapal kemungkinan akan meningkatkan kewaspadaan ketika memasuki perairan sekitar Iran dan Selat Hormuz. Setiap gangguan berkepanjangan berpotensi memengaruhi rantai pasok energi sekaligus meningkatkan biaya transportasi laut.
Klaim IRGC mengenai serangan terhadap tiga kapal tanker dan tiga kapal yang dikaitkan dengan Amerika Serikat menandai babak baru ketegangan di kawasan Selat Hormuz. Situasi menjadi semakin kompleks karena kedua pihak saling menyampaikan klaim serangan dan balasan dalam rentang waktu yang berdekatan. Amerika Serikat menegaskan akan mempertahankan personel dan aset militernya apabila kembali menjadi sasaran, sementara Iran memperingatkan respons yang lebih keras apabila serangan terhadap kepentingannya terus berlangsung. Belum adanya verifikasi independen terhadap sebagian klaim Iran membuat perkembangan mengenai kerusakan kapal masih perlu menunggu informasi lebih lanjut. Di tengah pertukaran ancaman tersebut, keselamatan pelayaran komersial dan keberlangsungan arus energi melalui Selat Hormuz menjadi salah satu kekhawatiran terbesar. Eskalasi lebih lanjut berpotensi membawa dampak yang tidak hanya terbatas pada Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga terhadap keamanan kawasan serta pasar energi global.





