Jakarta, 29 September 2026 – Ekonom menilai kredibilitas kebijakan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia agar tidak terbebani oleh tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Kepercayaan pelaku pasar terhadap arah kebijakan fiskal dan moneter dinilai berpengaruh terhadap stabilitas pasar keuangan serta arus modal. Ketika kepercayaan terjaga, tekanan eksternal terhadap rupiah dapat dikelola dengan lebih baik. Stabilitas nilai tukar pada akhirnya turut mendukung aktivitas dunia usaha dan perekonomian domestik.
Tekanan terhadap rupiah menjadi perhatian karena pelemahan nilai tukar dapat meningkatkan biaya impor, terutama untuk bahan baku, barang modal, dan kebutuhan industri yang masih didatangkan dari luar negeri. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya produksi perusahaan dan kemudian memengaruhi harga barang di tingkat konsumen. Dampaknya juga dapat terasa terhadap investasi apabila pelaku usaha menghadapi ketidakpastian yang berkepanjangan. Karena itu, stabilitas rupiah memiliki keterkaitan dengan keberlanjutan momentum pertumbuhan ekonomi.
Kredibilitas kebijakan dinilai perlu dibangun melalui komunikasi yang konsisten dan koordinasi antara pemerintah dengan Bank Indonesia. Kebijakan fiskal harus mampu menjaga kepercayaan terhadap pengelolaan anggaran, sementara kebijakan moneter diarahkan untuk mempertahankan stabilitas harga dan nilai tukar. Pelaku pasar juga membutuhkan kepastian mengenai arah kebijakan pemerintah dalam jangka menengah. Konsistensi tersebut dapat membantu mengurangi persepsi risiko terhadap aset keuangan Indonesia.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya berasal dari faktor domestik. Pergerakan dolar Amerika Serikat, kebijakan suku bunga global, kondisi geopolitik, serta perubahan sentimen investor internasional dapat memengaruhi mata uang negara berkembang. Indonesia perlu menjaga fundamental ekonomi agar memiliki ketahanan lebih baik ketika terjadi gejolak eksternal. Cadangan devisa, inflasi, neraca perdagangan, dan arus investasi menjadi beberapa indikator yang turut diperhatikan pasar.
Pemerintah juga perlu menjaga agar kebijakan yang ditempuh tetap memberikan ruang bagi sektor riil untuk berkembang. Stabilitas makroekonomi harus berjalan bersama upaya mendorong konsumsi rumah tangga, investasi, ekspor, dan penciptaan lapangan kerja. Apabila tekanan nilai tukar meningkatkan biaya produksi secara signifikan, kemampuan perusahaan untuk melakukan ekspansi dapat ikut terpengaruh. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi daya dorong investasi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Koordinasi fiskal dan moneter menjadi semakin penting ketika perekonomian menghadapi kombinasi tekanan global dan kebutuhan mempertahankan pertumbuhan domestik. Kebijakan yang terlalu longgar dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas, sedangkan langkah yang terlalu ketat berpotensi menekan aktivitas ekonomi. Pemerintah dan otoritas moneter karena itu perlu menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan. Komunikasi yang jelas mengenai langkah kebijakan juga diperlukan untuk mengurangi ketidakpastian di pasar.
Dalam jangka menengah, penguatan fundamental ekonomi dinilai menjadi langkah penting untuk mengurangi sensitivitas rupiah terhadap perubahan kondisi global. Peningkatan produktivitas, investasi berkualitas, penguatan ekspor bernilai tambah, serta pengelolaan fiskal yang terukur dapat memperkuat ketahanan perekonomian. Kredibilitas kebijakan menjadi fondasi agar investor dan pelaku usaha memiliki keyakinan terhadap prospek Indonesia. Dengan kepercayaan yang terjaga, tekanan terhadap rupiah diharapkan tidak berkembang menjadi beban yang menghambat laju pertumbuhan ekonomi nasional.




