Jakarta, 18 September 2026 – Jakarta terus bergerak sebagai kota metropolitan dengan gedung tinggi, sistem transportasi modern, teknologi, serta kawasan baru yang mengubah wajah ibu kota dari waktu ke waktu. Namun, di balik perubahan tersebut terdapat kehidupan kampung, warung, halaman rumah, oplet, percakapan antartetangga, dan keluarga sederhana yang pernah menjadi bagian kuat dari identitas kota. Gambaran Jakarta dari sudut kehidupan masyarakat itu salah satunya bertahan melalui kisah Si Doel. Sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang populer sejak era 1990-an tidak hanya menghadirkan drama keluarga, tetapi juga merekam kehidupan masyarakat Betawi di tengah perubahan kota. Cerita tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan, pekerjaan, keluarga, hubungan sosial, dan modernisasi bertemu dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, Si Doel dapat dipandang sebagai salah satu karya budaya yang menyimpan ingatan sosial mengenai Jakarta.
Ingatan tersebut kembali diangkat melalui buku Si Doel Anak Sekolahan: Filosofi Orang Kampung karya sastrawan sekaligus penulis skenario Si Doel Anak Sekolahan, Harry Tjahjono. Buku itu tidak sekadar mengingatkan masyarakat terhadap popularitas sebuah sinetron pada masa lalu. Di dalamnya terdapat upaya melihat kembali kehidupan masyarakat asli Jakarta dan lingkungan sosial yang menjadi tempat lahirnya cerita Si Doel. Jakarta dalam kisah tersebut bukan hanya kota dengan pusat bisnis dan jalan besar, melainkan kota yang dilihat melalui rumah, gang, warung, kendaraan umum, serta hubungan antarmanusia. Ruang-ruang sederhana itu membentuk karakter masyarakat sebelum Jakarta berkembang menjadi metropolitan seperti sekarang. Kisah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa perjalanan sebuah kota dapat direkam melalui karya budaya, bukan hanya melalui catatan pembangunan fisik.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno yang memerankan Doel juga mengenang bahwa lahirnya Si Doel Anak Sekolahan berkaitan dengan kegelisahan mengenai posisi masyarakat Betawi ketika Jakarta berubah dengan cepat. Menurut Rano, pelestarian diperlukan agar masyarakat Betawi tidak sampai menjadi tamu di rumahnya sendiri. Sinetron Si Doel menjadi salah satu medium yang memperkenalkan kehidupan dan budaya Betawi kepada masyarakat luas melalui cerita yang dekat dengan keseharian. Rumah Betawi, bahasa, pakaian, musik, makanan, kendaraan, hingga pola hubungan keluarga hadir secara alami di dalam cerita. Unsur kebudayaan tersebut tidak ditempatkan sebagai pajangan, melainkan menjadi bagian dari kehidupan karakter. Pendekatan itulah yang membuat penonton dapat mengenal budaya Betawi melalui cerita tanpa merasa sedang mengikuti pelajaran formal mengenai kebudayaan.
Kampung dalam dunia Si Doel juga mempunyai makna yang lebih luas daripada sekadar kumpulan rumah. Lingkungan tersebut menjadi tempat masyarakat membangun hubungan, mengenal tetangga, membantu warga yang membutuhkan, dan menjaga komunikasi antargenerasi. Anak-anak tumbuh dengan mengenal orang-orang yang tinggal di sekelilingnya, sementara berbagai persoalan keluarga dan masyarakat diselesaikan melalui interaksi langsung. Dari ruang semacam itulah bahasa, humor, kebiasaan, makanan, dan cara bergaul berkembang menjadi identitas sosial. Jakarta yang semakin padat membuat bentuk lingkungan seperti itu terus mengalami perubahan. Sebagian kampung berkembang menjadi kawasan permukiman padat, sementara sebagian ruang terbuka berubah fungsi mengikuti kebutuhan kota. Si Doel kemudian menjadi pengingat mengenai bentuk kehidupan sosial yang pernah sangat dekat dengan keseharian masyarakat Jakarta.
Cerita Si Doel pada saat yang sama tidak menempatkan kebudayaan Betawi sebagai sesuatu yang harus menolak perubahan. Tokoh Doel justru digambarkan mengejar pendidikan tinggi hingga menjadi seorang insinyur dan memasuki lingkungan yang lebih luas daripada kampung tempatnya dibesarkan. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa modernisasi dan pendidikan dapat berjalan tanpa harus memutus hubungan seseorang dengan identitas asalnya. Doel tetap menjadi bagian dari keluarga dan lingkungan Betawi meskipun cita-cita serta kehidupannya berkembang. Pesan semacam itu menjadi relevan ketika Jakarta terus mengalami transformasi sosial dan ekonomi. Pelestarian budaya tidak harus berarti mempertahankan seluruh bentuk kehidupan masa lalu tanpa perubahan. Kebudayaan dapat tetap hidup apabila nilai, bahasa, hubungan sosial, dan identitasnya mampu beradaptasi dengan kehidupan generasi berikutnya.
Perubahan Jakarta sendiri tidak dapat dihentikan karena kota tersebut terus menerima perkembangan penduduk, modal, teknologi, transportasi, permukiman, dan kebutuhan baru. Infrastruktur berkembang, kawasan baru bermunculan, sementara pola bekerja dan berinteraksi masyarakat ikut berubah. Transformasi tersebut merupakan bagian dari perjalanan sebuah kota besar. Persoalan muncul apabila kemajuan hanya dipahami melalui perubahan fisik, sedangkan kehidupan sosial yang membentuk karakter kota semakin jarang mendapatkan ruang. Gedung, jalan, dan transportasi dapat menunjukkan perkembangan ekonomi, tetapi identitas sebuah kota juga dibentuk oleh manusia yang hidup di dalamnya. Karya budaya seperti Si Doel mempunyai kemampuan untuk menyimpan bagian dari kehidupan tersebut dalam ingatan masyarakat. Melalui karakter dan cerita, generasi yang tidak mengalami Jakarta beberapa dekade lalu tetap dapat memperoleh gambaran mengenai kehidupan masyarakat Betawi pada zamannya.
Kekuatan Si Doel sebagai rekaman sosial terlihat dari kemampuannya menghadirkan persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Pendidikan, pekerjaan, kondisi ekonomi keluarga, hubungan orang tua dan anak, pergaulan antartetangga, serta perubahan cita-cita menjadi bagian penting dari perjalanan para karakter. Cerita tidak membutuhkan kemewahan untuk menggambarkan dinamika Jakarta karena konflik muncul dari kehidupan sehari-hari. Pola tersebut berbeda dengan sebagian tayangan modern yang lebih banyak menghadirkan kehidupan metropolis dan kemewahan sebagai latar utama. Si Doel memperlihatkan Jakarta dari tingkat keluarga dan kampung sehingga perubahan kota dapat dilihat melalui pengalaman orang biasa. Karya fiksi memang tidak dapat menggantikan dokumen sejarah, tetapi dapat menyimpan suasana kehidupan yang sulit direkam hanya melalui angka dan arsip. Inilah yang membuat cerita tersebut tetap mempunyai hubungan kuat dengan ingatan mengenai Jakarta.
Nilai tersebut menjadi semakin relevan ketika Jakarta diarahkan berkembang sebagai kota global. Semakin terbuka sebuah kota terhadap pengaruh dunia, semakin penting pula keberadaan identitas lokal yang membedakannya dari kota lain. Kebudayaan Betawi menjadi salah satu unsur utama yang membentuk karakter Jakarta dan perjalanan sejarah masyarakatnya. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyiapkan berbagai langkah penguatan kebudayaan menjelang usia 500 tahun Jakarta, termasuk pengembangan titik-titik budaya di 44 kecamatan dan 267 kelurahan serta pengembangan kembali Anjungan Jakarta di Taman Mini Indonesia Indah. Pendekatan tersebut diarahkan agar kebudayaan tidak hanya hadir dalam acara seremonial, tetapi semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Teknologi dan ruang kreatif modern juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan tradisi kepada generasi baru. Dengan cara itu, modernisasi tidak harus ditempatkan sebagai lawan dari pelestarian budaya.
Jakarta pada masa mendatang hampir pasti akan mempunyai wajah yang semakin berbeda dibandingkan kota yang digambarkan dalam Si Doel Anak Sekolahan. Sistem transportasi akan terus berkembang, kawasan permukiman berubah, teknologi semakin menentukan cara masyarakat bekerja, dan ruang kota memperoleh fungsi baru. Namun, nilai kedekatan sosial, gotong royong, hubungan antargenerasi, dan rasa memiliki terhadap lingkungan tetap dapat dipertahankan dalam bentuk yang menyesuaikan perkembangan zaman. Pelestarian dengan demikian tidak selalu berarti membangun kembali kondisi fisik Jakarta pada masa lalu. Hal yang lebih penting adalah menjaga agar nilai yang membentuk masyarakat tetap mempunyai ruang di tengah kehidupan modern. Si Doel menunjukkan seseorang dapat bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa harus kehilangan hubungan dengan tempat dan budaya yang membentuk dirinya. Gagasan tersebut menjadi salah satu jembatan antara Jakarta lama dengan Jakarta yang sedang menuju masa depan.
Menjelang usia lima abad, perjalanan Jakarta pada akhirnya tidak hanya dapat diceritakan melalui daftar pembangunan, gedung baru, jalan, atau sistem transportasi. Generasi mendatang juga membutuhkan cerita mengenai masyarakat yang pernah hidup di kota tersebut, bagaimana mereka membangun keluarga, berinteraksi dengan tetangga, mencari penghidupan, serta mempertahankan identitas di tengah perubahan. Si Doel menyimpan sebagian dari cerita tersebut melalui dunia keluarga Betawi yang sederhana tetapi dekat dengan kehidupan masyarakat. Membicarakan kembali Si Doel bukan berarti membawa Jakarta kembali menuju masa lalu. Kisah tersebut justru dapat menjadi pengingat bahwa sebuah kota dapat terus bergerak maju sambil memahami akar yang membentuknya. Jakarta dapat berkembang menjadi kota global tanpa harus kehilangan kebudayaan dan identitas lokal yang membuatnya berbeda. Dalam konteks itulah Si Doel tetap menjadi salah satu cermin perjalanan Jakarta dari kampung menuju metropolitan.





